Lina's Blog

Hidupku, Studiku, Tentang Aku

 
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Penilaian Acuan Normatif
Selasa, 14 April 2009
Ada beberapa pendapat tentang pengertian Penilaian Acuan Normatif, yaitu:
1. Acuan normatif merupakan elemen pilihan yang memeberikan daftar dokumen normatif yang diacu dalam standar sehingga acuan tersebut tidak terpisahkan dalam penerapan standar. Data dokumen normatif yang diacu dalam standar yang sangat diperlukan dalam penerapan standar.
2. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada norma atau kelompok. Cara ini dikenal sebagai penilaian acuan normatif (PAN).
3. PAN adalah Nilai sekelompok peserta didik (siswa) dalam suatu proses pembelajaran didasarkan pada tingkat penguasaan di kelompok itu. Artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan nilai di kelompok itu.
4. Penilaian Acuan Normatif (PAN) yaitu dengan cara membandingkan nilai seorang siswa dengan nilai kelompoknya. Jadi dalam hal ini prestasi seluruh siswa dalam kelas / kelompok dipakai sebagai dasar penilaian.
Dari beberapa pengertian ini dapat disimpulkan bahwa Penilaian Acuan Normatif adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelmpok; nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk di dalam kelompok itu.
Untuk lebih memahami apa itu Penilaian Acuan Normatif, berikut ini beberapa cirri dari Penilaian Acuan Normatif :
1. Penilaian Acuan Normatif digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya.
2. Penilaian Acuan Normatif menggunakan criteria yang bersifat “relative”. Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut.
3. Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya).
4. Penilaian Acuan Normatif memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius.
5. Penilaian Acuan Normatif memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok.

Mengacu pada ciri-ciri di atas, Penilaian Acuan Normatif digunakan di seluruh lembaga pendidikan. Mulai dari kelas, sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan lain sebagainya, dimana penilaian dengan system ini mengambil acuan dari komunitas tertentu tersebut. Yang perlu ditekankan adalah kapan system penilaian acuan normative tersebut digunakan.

Lembaga pendidikan menggunakan system penilaian acuan normative ketika nilai dari suatu komunitas tersebut kurang memenuhi standar yang diinginkan. Nilai yang diperoleh tidak memenuhi suatu syarat tertentu. Sebagai contoh misalnya dalam suatu kelas, pada awalnya mengindikasikan suatu pembelajaran dikatakan berhasil jika minimal ¾ dari jumlah peserta didik di kelas tersebut memperoleh nilai di atas 70. namun dalam kenyataannya, hanya ¼ dari jumlah peserta didik yang memperoleh nilai di atas 70, dengan nilai terbesar adalah 75. oleh karena dalam kelas tersebut banyak yang tidak memenuhi syarat keberhasilan, maka digunakanlah system penilaian acuan normative.

Penilaian Acuan Normatif diperlukan dalam pengukuran, karena keputusan yang tepat untuk memilih alat ukur yang digunakan akan sangat menentukan, misal alat ukur untuk UN berbeda dengan alat ukur untuk SMNPTN.

Sebagai contoh cara penilaian yang pernah dilakukan untuk menentukan kelulusan (lulus-tidaknya) seorang siswa dalam UAS (Ujian Akhir Semester) untuk SMTP dan SMTA pada akhir tahun ajaran. dari hasil UAS itu diperoleh nilai UAS, yang berasal dari hasil penilaian panitia ujian dengan menggunakan patokan prosentase, yang menunjukan tingkat kemampuan atau penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diujikan. Dengan kata lain, nilai UAS merupakan hasil penilaian dengan cara PAP. Akan tetapi, setelah nilai-nilai UAS itu pada umumnya sangat rendah sehingga tidak memenuhi syarat untuk dapat dinyatakan lulus, kemudian nilai-nilai itu diolah ke dalam PAN dengan menggunakan rumus tertentu dengan maksud agar nilai-nilai tersebut dapat diperbesar. Rumus yang digunakan:
PAN=(p + q + nR)/(2+n)

Ket:
p= Nilai rapor semester ganjil
q= Nilai rata-rata subsumatif semester genap
R= Nilai UAS
n= Koefisien dari nilai UAS / Koefisien R
Dengan ketentuan bahwa rentangan harga n bergerak dari 2 sampai dengan 0,5, hal ini dimaksudkan agar masing-masing daerah dapat menyesuaikan dengan kondisi wilayahnya (koefisien R).

Contoh 1
Misalkan seorang siswa SMP di Kotamadya Yogyakarta dimana koefisien R(n) kanwil Yogyakarta adalah 0,75 memperoleh nilai p= 5, nilai q= 8 dan hasil UASnya (R)=4. dengan rumus yang berlaku di Yogyakarta nilai siswa tersebut menjadi:
N= (p+q+nR) / (2+n)
N= (5+8+(0,75x4)) / (2+0,75)
N= 16 / 2,75
N= 5,82

Nilai 5,82 itulah yang dicantumkan dalam Rapor.
posted by Lina @ 19.43   0 comments
student's attitude when does the exercize
Selasa, 30 Desember 2008
Many people assume that the function of school can be better if all of the students have same facilities. For example they have same books, same learning equipment, do the job with same steps, ect. Therefore, must be attention the each student (individual) has different character. They have an unique behavior.
Learning is called effective if it have ability to fill the exclusive needs of students who they are different each other. Students have different thinking, feeling, and doing anything. It can be showed when the students are doing their homework, student’s activities, or their exercise. Include when they study about mathematics. Not only when they join mathematics learning at school but also when they do the exercise of mathematics.
I observed a student who studies at Junior High School. Her name is Eko Wahyu Lestari. Her nick name is Eko. She school in 3rd years at SMP N 1 Wates, Kulon Progo, D.I.Yogyakarta. Eko include the student that learns rarely. But she is smart and always gets Top 10 at her class.
I give her a mathematics problem about addition and subtraction of quadratic number. She just looks at the problem. The problem is
(5562 – 4442) = ….
She looks have a serious thinking, full of concentration, and she can’t be annoyed by anybody. After many time, she begin calculate in the paper. After she get the solution, she ask me about her solution, true or false. She describe to me that she found the solution by assumed
556 = a
444 = b
Given
(a2 – b2)= (a + b) (a - b)
= (556 + 444) (556 – 444)
= (1000) (112)
= 112000
So (5562 – 4442) = 112000
May be another student have different behavior when I give them a mathematics problem such as above. It seems that students have the unique attitude that can be their special character.
posted by Lina @ 17.55   0 comments
Jumat, 12 Desember 2008
I. Bagaimana menyikapi siswa yang mengalami kesulitan belajar?
Pengertian kesulitan dalam belajar dapat telaah dalam berbagai aspek. Diantaranya yaitu diaspek psikologis dan aspek fisik. Kesulitan dalam belajar, secara psikologis dimaknai sebagai kurangnya motivasi dalam belajar. Sedangkan secara fisik, dimaknai bahwa kesulitan dalam belajar dikarenakan karena sakit sehingga tidak dapat menjalankan proses belajar seperti menggambar, menulis, membaca, dan lain sebagainya.
Belajar merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan berkreasi yang relatif permanen atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkunganya.
Ciri-ciri perilaku belajar yaitu:
• Perubahan tingkah laku terjadi secara sadar
• Perubahan bersifat kontinu dan fungsional
• Perubahan bersifat positif dan aktif
• Perubahan bersifat permanen
• Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
• Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam individu. Farktor internal meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis. Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh,sedangkan faktor psikologis meliputi intelligence, perhatian ,minat,bakat,motif, kematangan dan kelelahan. Faktor eksternyang berpengaruh dalam belajar meliputi fakor keluarga,faktor sekolah dan faktor masyarakat. Faktor keluarga dapat meliputi cara orang tua mendidik,relasi antar anggota keluarga,suasana rumah,keadaan ekonomi keluarga,pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar meliputi metode mengajar,kurikulum,relasi guru dengan siswa,relasi antar siswa,disiplin sekolah,pelajaran dan waktu sekolah dan metode balajar. Faktor masyarakat dapat berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, bentuk kehidupan dalam masyarakat.
Sedangkan Muhibbinsyah(1997) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menjadi tiga,yaitu faktor internal,faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar yang merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi srategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran. Macam-macamnya:
• Pendekatan surface
Kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan dari luar. Oleh karena itu gaya belajarnya santai,asal hafal dan tidak mementingkan pemahamanyang mendalam.
• Pendekatan deep
Kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan dari dalam. Oleh karena itu gaya belajarnya serius dan berusaha memahami materi secara mendalam serta memikirkan cara menerapkanya dalamkehidupan sehari-hari.
• Pendekatan achieving
Kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan untuk mewujudkan ego enhancement yaitu ambisis pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih prestasi setinggi-tingginya. Gaya belajar ini lebih serius daripada jenis pendekatan lainya.
Ciri anak mengalami kesulitan belajar
• Menunjukkan adanya hasil belajar yang rendah
• Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
• Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar
• Menunjukan sikap yang kurang wajar
• Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar:
• Faktor internal: meliputi kemampuan intelektual,afeksi,motivasi,kematangan untuk belajar,jenis kelamin,kemampuan pengindraan
• Faktor eksternal: meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi proses pembelajaran yang meliputi guru,kualitas pembelajaran
Untuk mengatasi kesulitan peseta didik terlebih dahulu kita menentukan faktor penyebabnya dan kemudian menentukan alternatif bantuan yang diberikan. Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
• Teknik nontes: Wawancara, Observasi, Angket, Sosiometri, Dokumentasi, Pemeriksaan fisik dan kesehatan
• Teknik tes: tes hasil belajar dan tes psikologis
Prosedur pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar meliputi:
• Mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan
• Melokalisasi letak kesulitan belajar
• Menentukan faktor penyebab kesulitan belajar
• Memperkiran alternative bantuan
• Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya
• Tindak lanjut

Dalam pembahasan kesulitan dalam belajar tentulah tidak lepas dari istilah lambat belajar. Peserta didik yang lambat belajar atau yang lebih sering disebut slow learner merupakan kelompok peserta didik di sekolah yang perkembangannya lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan rata-rata teman-teman seusianya atau teman-teman sekelasnya. Sebagaimana yang diutarakan oleh Chaplin (1986) bahwa “Slow learner, a non technical term variously applied to children who are some what mentally retarded or who are developing at slower than normal rate”.
Peserta didik yang mengalami gejala lambat belajar mempunyai cirri-ciri yaitu prestasi belajar rendah, lambat dan sukar dalam menerima pelajaran, lambat dalam bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas, kurang kecakapan membaca, kurang kemampuan dalam menyatakan hasil belajar. Pada orang-orang tertentu, tampak juga gelaja kurang mampu bersosialisasi, kurang senang bergaul, kurang responsive terhadap suatu masalah.
Secara lebih luas, manifestasi dari gejala-gejala perilaku lambat belajar dapat berupa :
a. Gejala kelambatan : lambat dalam menerima pelajaran, mengolah pelajaran, bekerja, mengerjakan tugas, membaca, menerima dan memahami isi bacaan, dan sebagainya.
b. Kurang kemampuan : kurang konsentrasi dalam belajar, kurang kemampuan menangkap, mengingat, memahami materi pelajaran, kurang kemampuan menyatakan pendapat, pemikiran, memecahkan masalah, kreativitas, kurang kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, memimpin, dan sebagainya.
c. Berprestasi rendah : prestasi rendah dalam ulangan harian, ulangan umum, pengerjaan tugas, latihan di kelas, di laboratorium, ujian sekolah atau ujian nasional, dan sebagainya.
d. Kelainan perilaku : berkebiasaan kurang baik, perilaku tidak produktif, dan sebagainya.
e. Kesalahan : sering melakukan kesalahan dalam bekerja, belajar, melakukan tugas, latihan, praktik, ulangan, dan sebagainya.

II. Apa hubungan psikologi dengan hal-hal di luar diri seseorang?
Dalam mendalami hubungan psikologis dengan hal-hal di luar diri seseorang yang cenderung bersifat tidak masuk akal tentulah tidak lepas dari kesadaran manusia dalam menyikapinya. Sebagai seorang pendidik tentunya kita harus menanamkan dalam diri peserta didik tentang berbagai fenomena yang benar. Dalam artian segala yang diucapkan itu masuk akal dan sesuai dengan fakta yang ada.
Di luar lingkup keilmuan, fakta sering dihubungkan dengan:
• Suatu hasil pengamatan jujur yang diakui oleh pengamat yang diakui secara luas
o Galat biasa terjadi pada proses interpretasi makna dari suatu observasi.
o Kekuasaan kadang digunakan untuk memaksakan interpretasi politis yang benar dari suatu pengamatan.
• Suatu kebiasaan yang diamati secara berulang; satu pengamatan terhadap fenomena apapun tidak menjadikan itu sebagai suatu fakta. Hasil pengamatan yang berulang biasanya dibutuhkan dengan menggunakan prosedur atau definisi cara kerja suatu fenomena.
• Sesuatu yang dianggap aktual sebagai lawan dari dibuat
• Sesuatu yang nyata, yang digunakan sebagai bahan interpretasi lanjutan
• Informasi mengenai subyek tertentu
• Sesuatu yang dipercaya sebagai penyebab atau makna

III. Bagaimana cara menganalisis aspek psikologis pada seorang anak?
Dalam menganalisis aspek psikologis pada seorang anak sama halnya dengan mengetahui kepribadian si anak. Ada beberapa cara untuk mengetahui kepribadian seseorang, Salah satunya yaitu dengan teknik proyektif condong kepada bagaimana kebiasaan individu, yaitu dirangsang untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya, dengan pelepasan berupa dorongan-dorongan, tekanan-tekanan isi hati, secara spontan dan mengucur begitu saja tanpa disadari pelepasan berupa dorongan-dorongan, tekanan-tekanan isi hati, secara spontan dan mengucur begitu saja tanpa disadari.
Teknik proyektif dilakukan dalam dua cara yaitu teknik proyektif verbal dan teknik proyektif non verbal. Teknik proyektif verbal yang alat untuk mengungkapkannya disebut sebagai aperseption test. Tes proyektif verbal ini sering digunakan untuk keperluan klinis. Sedang teknik proyektif non verbal alat pengungkapannya berupa tes grafis. Tes proyektif non verbal ini sering digunakan dalam bidang psikologi industri dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Berikut ini termasuk macam-macam tes dalam teknik proyektif non verbal :
a. Tes Inventori
Manusia diciptakan dengan pribadi yang berbeda-beda. Setiap orang mempunyai kekhasan masing-masing.
Kepribadian seseorang itu berbeda-beda, punya kekhasan masing-masing. Mulai dari pribadi orang daerah Timur sampai Barat Indonesia, tidak ada yang sama. Dalam satu keluarga pun kepribadian seseorang itu berbeda. Oleh karena perlakuan yang diterima pada saat usia perkembangan hingga dewasa setiap orang berbeda. Mulai dari aspek pendidikan, sikap orang tua, sikap keluarga dekat, teman dekat, tetangga, kebiasaan, tontonan, bacaan, kesukaan, dan sebagainya, pasti berbeda.
Nah, disinilah kita bisa memahami, diperlukannya sebuah perlakuan yang berbeda dari setiap orang dalam mengungkap kepribaiannya. Mulai dari sisi, pilihan-pilihan alternative jawaban yang paling dekat sampai yang paling jauh alias sesuai tidak sesuai dengan kebiasaannnya. Menggunakan pertimbangan tersebut diatas makanya disusunlah perangkat tes kepriabdian dalam bentuk inventori. Jumlah masing-masing alat tes kepribadian bentuk ini macam-macam, mulai dari puluhan sampai ratusan soal bahkan lebih dari 500 aitem soal.
b. Tes Isian
Sebagaimana biasanya dalam sebuah tes apapun, Anda pernah menemui soal tes dalam bentuk isian. Mulai dari mengisi biodata, jawaban pelajaran, pengetahuan umum, sampai pada pengetahuan yang psesifik sesuai background pendidikan. Layaknya dengan sebutan isian, maka pada tes kepribadian jenis ini diharapkan sesorang yang mengisi jawaban pada soal isian tersebut, terungkap mengenai siapa sebenarnya Anda dari sisi penilaian pribadi Anda sendiri maupun pendapat orang lain yang Anda anggap sebagai benar adanya.
c. Tes Grafis
Metode lain dalam mengungkap sebuah kepribadian, menggunakan gambar. Gambar apa, ya gambar dari goresan tulisan Anda. Lho, kog. Iya, tulisan atau goresan tulisan Anda itu bisa diprediksi seperti apa sebenarnya kepribadian Anda. Anda diminta menggambarkan sebuah objek gambar tertentu, nah dari hasil gambar tadi dianalisa yang akan menghasikan beberapa penialain terkait kepribadian. Apa yang dinilai, pertama arah coretannya, apakah cenderung kearah luar atau kedalam. Nah disini jelas mengandung perbedaan dari segi analisanya nanti. Secara gampangnya, individu tersebut cenderung introvert atau ektrovert dalam kepribadiannya secara umum. Kedua, kualitas goresannya seperti apa, kuat , lemah atau bahkan tanpa tekanan sama sekali. Hal ini menunjukkan kualitas kekuatan seseorang, semangat membara, maju terus pantang mundur, kelembekan, kurang motivasi, cenderung mengalah dan sebagainya. Nah, ini tergantung dari si Individu tersebut dalam kesehariannya, karena tes grafis ini merupakan bagian dari tes proyetif. Ketiga, warna dari gambarnya. Lho kog, iya warna gelap terangnya dari gambar tersebut, cenderung seimbang antara hitam dan putih, hitam atau dominan tanpa hitam. Hitam disini adalah kualitas arsirannya. Gelap sekali arsirannya atau kabur dalam arsirannya. Keempat, lay out gambarnya lebih mengarah kebidang bagian atas, bawah, tengah, cenderung kiri atau kanan dari media yang telah disediakan. Perbedaan pengambilan lay out gambar sangat ditentukan oleh pengalaman hidup masing-masing individu, tidak bisa dibuat-buat dalam pengerjaaan pelepasan proyektifnya. Seseorang yang kesehariannya cenderung penakut atau bimbang dalam mengambil keputusan, hasilnya akan berbeda dengan individu yang tegas dan cepat dalam memutuskan sesuatu. Dalam psikotes yang diterapkan untuk kegunaan pengungkapan kepribadian sesorang, memang tidak bisa dikelabui. Akan ketahuan sesorang tersebut, apakah sungguh-sungguh dalam mengerjakan atau dibuat-buat dalam pengerjaannya. Istilah kerennya faking good or faking bed. Tergantung dari si Individu dalam menilai tujuan dari psikotes tersebut. Jika posisi yang diharapkan memang disukai, maka akan digunakan faking good, demikian sebaliknya. Tentu saja inilah yang akan mengurnagi validitas dari sebuah tes.
Dari itu semua, terlihat sudah, ternyata yang diungkap dari tes kepribadian adalah kebiasaan-kebiasaan, cara pandang terhadap masalah, kestabilan emosi, pola hubungan atau interaksi baik dengan diri sendiri maupun orang lain, cara pelampiasan tekanan, tingkatan motivasi atau kekuatan semangat, trauma-trauma, bahkan dari tes kepribadian ini bisa dilihat juga taraf kecerdasannya.

IV. Bagaimana cara membangun psikologi yang baik agar siswa mudah dalam belajar matematika?
Dalam membangun iklim yang baik bagi siswa dalam kontek belajar matematika terkait pada dua hal yaitu dari segi guru, siswa yang diajar, dan sarana prasarana dalam belajar matematika.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah apakah guru matematika kompeten, layak, dan sesuai keahliannya dalam mengajar atau tidak. Seorang guru dikatakan kompeten tidak hanya teruji kemampuannya dalam menguasai materi tetapi juga kemampuannya menyampaikan materi yaitu komunikatif terhadap siswanya. Banyak orang yang pintar matematika. Mereka paham dan mengerti tentang matematika namun mereka sukar untuk menyampaikan materi kepada orang lain. Selain harus paham dan dapat menyampaikan materi, guru matematika harus memperkaya diri dengan banyak membaca, tak berpuas diri dengan kemampuan yang sudah dimiliki, dan perlu adanya persiapan sebelum mengajar.
Yang kedua yang perlu diperhatikan adalah bahwa siswa yang belajar matematika mempunyai kemampuan yang beragam. Ada yang cepat tanggap ada yang biasa saja, dan ada pula yang kurang cepat. Oleh karena itu, selaku guru matematika, tidak boleh menganggap kemampuan siswa sama dengan kemampuan guru. Maksudnya yaitu jangan menganggap pemahaman siswa sama dengan pemahaman guru yang tentunya sudah belajar sebelumnya. Kebanyakan dari mereka relative lebih lama dalam menguasai materi dibandingkan guru yang sudah pengalaman sebelumnya, yang sudah mengenal materi, yang sudah mahir sebelumnya. Oleh karena itu, sebagai pendidik harus memposisikan diri pada posisi siswa.
Yang terakhir yang perlu diperhatikan adalah sarana dan prasarana yang disediakan dalam proses belajar mengajar matematika Hal ini pun sedikit banyaknya berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pembelajaran. Yang dimaksud sarana dan prasarana di sini bisa meliputi: kelayakan tempat belajar (ruang kelas, ada-tidaknya laboratorium, dsb), ketersediaan alat-alat belajar (papan tulis, buku text, dsb), ketersediaannya media pembelajaran, dan lain sebagainya.

V. Apakah berpengaruh jika guru dianggap sebagai teman?
Pada dasarnya, semua harus berjalan secara proposional. Guru sebagai teman dalam pengertian ada batasan etik dan estetika. Hal ini berkaitan dengan hal-hal yang boleh dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan, hal-hal yang layak dan hal-hal yang tidak layak untuk dilakukan. Yang perlu ditanamkan dalam diri pendidik adalah kewibawaannya di mata siswa.
Guru atau pendidik-pendidik lain menerima jabatanya sebagai pendidik bukan kodrat, melainkan dari pemerintah. Ia ditnjuk, ditetapkan, diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara. Penggunaan kewibawaan pendidik harus berdasarkan faktor-faktor berikut:
• Dalam menggunakan kewibawaan itu hendaklah atas perkembangan anak itu sendiri sebagai pribadi. Pendidik hendaklah mengabdi kepada pertumbuhan anak yang belum selesai perkembangnya. Dengan kebikjasanaan pendidik,hendaklah anak dibaa ke arah kesanggupan memakai tenaganya dan pembawaanya yang tepat. Jadi, wibawa pendidik itu bukan bertugas menerima melainkan mengamati serta memperhatikan dan menyesuaikan pada perkembangan dan kepribadian masing-masing anak.
• Pendidik hendaklah memberi kesempatan kepada anak untuk bertindak atas inisiatif sendiri.
• Pendidik hendaklah menjalankankewajibanya itu atas dasar cinta kepada si anak.
Dan selain itu seorang pendidik juga harus proporsional, mengetahui batasan-batasan koridor etik dan estetika pada para peserta didik agar kewibawaan seorang pendidik tetap terjaga.

VI. Bagaimana cara mendidik yang baik?
Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didikdalam pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar) mereka memiliki gaya tersendiri. Secara umum ada tiga tipe kategori dari gaya mereka yaitu; gaya demokrasi, gaya otoriter, gaya laizzes faire dan gaya pseudo demokrasi.
Keberadaan guru dengan gaya atau karakter otoriter- memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didik- selama pelaksanaan PBM dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyum manis dan kata- kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter tersebut.
Sekali lagi bahwa belajar dengan guru yang berkarakter otoriter adalah suatu mimpi buruk bagi anak didik. Suasana kelas tentu saja akan menjadi tenang dan teratur. Gerak laju jarum jam dinding terasa begitu lambat dan lama. Atmosfir ruangan kelas menjadi lebih kaku dan menegangkan dan menakutkan. Guru berkarakter killer atau berkarakter otoriter akan berpotensi untuk melahirkan anak didik yang suka membisu dan penakut. Adalah suatu keputusan yang bijaksana bagi pribadi yang memiliki karakter otoriter untuk tidak menjadi pendidik dimanapun berada, apalagi mengajar untuk Sekolah Dasar, karena keberadaan mereka cendrung merugikan dan merusak pertumbuhan jiwa anak didik.
Pseudo demokrasi adalah berarti “demokrasi yang palsu”. Karakter guru dengan pseudo demokrasi agaknya juga tidak memperoleh simpati di mata anak didik. Soalnya guru dengan karakter begini cendrung memonopoli kekuasaan. Keputusan yang ia buat disosialisasikan kepada anak didik namun keputusan akhir tetap menjadi monopoli mutlaknya.
Guru dengan karakter laissez faire- masa bodoh- cendrung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila populasi kelas cukup besar. Peranan guru yang berkarakter lassez faire bisa agak bagus apa bila ia mengelola kelas yang berpopulasi kecil. Agaknya guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi problema karakter laizzes faire.
Guru yang berkarakter demokrasi adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokrasi dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu memenangkan hati anak didik atau memoltivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yabg baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.
Setiap anak didik telah banyak mengenal banyak guru dalam hidupnya, ada guru yang pintar dan ada guru yang baik. Sekali lagi bahwa guru yang berkesan bagi mereka adalah guru yang menghadirkan hati atau emosinya saat melaksanakan PBM. Guru yang cerdas atau pintar namun memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak memberi pengaruh kepada anak didik.
Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik lewat kata- kata atau bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Maka guru- guru yang beginilah yang patut diberi hadiah dengan lagu “guru pahlawan tanpa tanda jasa”.
Kata kata yang diucapkan oleh guru kepada siswa atau anak didik dalam pergaulan mereka di sekolah sangat menentukan masa depan mereka. Kata kata yang diucapkan oleh guru pada anak didik ibarat panah yang lepas dari busur. Kata yang keluar dari mulut guru akan menancap pada hati anak didik. Bila kata- kata tadi melukai hati mereka, maka goresannya akan membekas sampai tua. Sering kata kata yang tidak simpatik dari seorang guru telah menghancurkan semangat hidup mereka. Sebaliknya kata kata yang mampu memberi dorongan semangat juga sangat berarti dalam menumbuh dan mengembangkan semangat hidup- semangat belajar dan bekerja mereka. Maka untuk itu guru perlu menjalin hubungan dengan anak didik lewat kata- kata yang berkualitas.

VII. Bagaimana menerangkan atau menyampaikan materi dalam mata pelajaran matematika?
Dalam menyampaikan materi, terdapat banyak metode pembelajaran. Diantaranya adalah :
A. Behavioristik
1. koneksionisme oleh Thorndike: terdapat tiga hukum pokok dan enam hukum tambahan
- law of readiness (hukum kesiapan): di dalam hukum ini terdapat keadaan yang menunjukkan seseorang mempunyai keinginan bertindak maka ia akan melakukan dan apabila tidak melakukannya maka akan menimbulkan ketidakpuasan atau sebaliknya, bila ia melakukan akan menimbulkan kepuasan maka dia tidak akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi rasa tidak puasnya.
- Law of exercise (hukum latihan): di dalam hukum ini ditunjukkan bahwa suatu kegiatan akan mudah dikerjakan kalau kita sudah terbiasa atau sudah lama kita tidak melakukannya pasti akan kesulitan dalam mengerjakannya
- Law of effect (hukum akibat): dalam hukum ini ditunjukkan bahwa suatu perbuatan yang akibatnya baik pasti akan dilakukan lagi, tapi sebaliknya kalau akibatnya buruk pasti tidak akan dilakukan lagi
- Belongingness: suatu koneksi akan lebih mudah dipelajari bila stimulus yang dipelajari itu termasuk dalam satu situasi
- Multiple response: bila seseorang menghadapi suatu masalah ada kemungkinan orang itu akan mengadakan bermacam-macam reaksi dengan maksud mencoba-coba berbagai macam cara untuk menemukan salah satu cara yang paling tepat
- Attitude: di dalam belajar, sikap menentukan arah dan bentuk perbuatan. Di samping itu sikap juga menyebabkan orang memilih reaksi atau perbuatan yang menyebabkan kepuasan
- Partial activity: bila orang dihadapkan pada situasi, ia mampu melihat ciri pokok dari situasi itu dan hanya akan bereaksi sesuai dengan ciri pokok itu tanpa memperlihatkan ciri-ciri yang lain yang menyertai situasi itu
- Response by analogi: bila seseorang menghadapi situasi baru, ia cenderung menggunakan reaksi atau sebagian dari reaksi yang pernah ia lakukan pada waktu menghadapi situasi yang mirip dengan situasi baru itu
- Associative shifting: bila kita ingin seseorang melakukan reaksi dengan terlebih dahulu harus diberikan syarat-syarat tertentu baru ia mau melakukannya, maka pada suatu saat orang itu akan mengerjakan tugasnya itu tanpa disertai syarat
2. Kondisioning
a. kondisioning klasik oleh Ivan Plavov: dalam teori ini ditunjukkan bahwa bagaimana tingkah laku dapat dibentuk dengan pengaturan dan manipulasi lingkungan. Dan tingkah laku tertentu dapat dibentuk dengan secara berulang-ulang. Tingkah laku itu tadi dipancing dengan sesuatu yang memang dapat menimbulkan tingkah laku itu
b. kondisioning operan oleh Skinner:
- seseorang akan melakukan sesuatu kalau ada rangsangannya
- seseorang akan melakukan terus dan terus mengembangkannya karena rangsangan itu tetap ada
c. teori kondisioning Guthrie: dengan prinsip belajar kondisioning, Guthrie mencoba mengubah tingkah laku yang kurang baik. Metode mengubah tingkah laku menurut Guthrie yaitu:
- reaksi berlawanan: bila kita ingin mengubah atau menghilangkan reaksi R terhadap stimulus S, maka pada waktu stimulus S itu diberikan, stimulus lain yang reaksinya berlawanan dengan reaksi yang akan diubah diberikan sekaligus
- membosankan: yaitu cara dengan membiarkan saja tingkah laku itu berlangsung. Dengan demikian akan timbul kebosanan dan orang yang melakukan perbuatan itu akan berhenti dengan sendirinya
- mengubah lingkungan: yaitu cara dengan jalan memutuskan atau memindahkan stimulus yang menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan itu
B. Kognitif
1. teori Gestalt
Insightful learning yang merupakan bentuk utama belajar menurut Gestalt mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- Insightful learning itu tergantung kepada kemampuan dasar si pelajar, kemampuan dasar ini tergantung kepasa umur, keanggotaan dalam spesies, dan perbedaan individual dalam suatu spesies
- Insightful tergantung kepada pengaturan situasi yang dihadapi. Insightful learning ini hanya mungkin timbul apabila situasi belajar ini diatur sedemikian rupa, sehingga aspek yang diperlukan dapat diobservasi
- Insightful didahului periode mencari dan mencoba-coba. Sebelum memecahkan masalah subyek mungkin melakukan hal-hal yang kurang relevan terhadap pemecahan problem tersebut
- Pemecahan soal dengan pengertian dapat diulangi dengan mudah. Sekali sudah dapat memecahkan suatu soal dengan pengertian maka orang akan dengan mudah mengulangi pemecahan itu dan ini akan dilakukan secara langsung
- Sekali insghtful telah diperoleh maka lalu dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi lain.
Dalam proses memperoleh insght terdapat dua aktivitas yang penting yaitu:
- proses generalisasi: yaitu proses penarikan hubungan yang penting atas dasar kesamaan struktur dan bentuk atau ciri-ciri umum dari suatu pengalaman
- proses diferensiasi: yaitu proses yang menyebabkan orang sadar akan adanya perbedaan-perbedaan yang penting yang terdapat pada sejumlah pengalaman
2. Medan oleh Kurt Lewin
Menurut pandangan Lewin belajar adalah:
a. belajar adalah pengubahan struktur kognitif. Pemecahan problem hanya dapat terjadi apabila struktur kognitif diubah
b. peranan hadiah dan hukuman merupakan dua sarana motivasi yang berguna, tapi dalam penggunaannya memerlukan pengawasan yang cukup
c. faktor motivasi lain yang penting yaitu pengalaman sukses dan gagal. Pengalaman sukses dapat dibedakan adanya beberapa tingkatan:
- betul-betul mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan
- sudah ada dalam daerah tujuan yang ingin dicapai
- Telah membuat kemajuan ke arah tujuan yang dikehendaki
- Telah berbuat sesuatu, yang oleh masyarakat dianggap sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan
d. taraf aspirasi: pengalaman sukses dan gagal itu bersangkutan langsung dengan taraf aspirasi seseorang.
3. Teori belajar bandura
Menurut Bandura proses belajar terjadi dengan mengantai dan meniru apa yang di sekitarnya. Oleh karena itu dinamakan social learning. Dalam social learning tersapat dua prinsip yaitu modeling dan imitation.

C. Humanistis
1. combs
Ahli-ahli humanis mengatakan bahwa dalam belajar diperlukan dua hal yaitu pemerolehan informasi baru dan personalisasi (mempribadikan nilai-nilai) informasi tersebut pada individu.
2. Carl Rogers
Dalam bukunya ‘freedom to learn’ Rogers mengajukan sejumlah prinsip-prinsip belajar antara lain:
- manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami
- belajar yang signifikan terjadi apabila subyek matter dirasakan murid mempunyai relevansi maksudnya sendiri
- belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung ditolaknya
- tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil
- apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai rasa yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar
- belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya
- belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab dalam proses belajar itu
- belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa secara seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari
- kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan kreativitas lebih mudah dicapai apabila terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting
- belajar yang paling berguna secara sosial di dunia modern ini ialah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses perubahan itu
3. Arahan Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri manusia terdapat dua hal yaitu suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan yang menolak atau yang melawan perkembangan itu. Maslow mengatakan adanya motif bertingkat pada manusia yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan memperoleh kasih sayang, kebutuhan memperoleh penghargaan, kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetis.

D. Psikoanalisis
Dua mekanisme pertahanan yang mengandung prinsip-prinsip belajar adalah:
1. identifikasi: merupakan metode yang dipergunakan orang dalam menghadapi orang lain dan membuatnya menjadi bagian dari kepribadiannya
2. pemindahan obyek: bila obyek pilihan sesuatu insting asli dapat dicapai karena adanya rintangan baik dari dalam atau dari luar, maka terjadilah dorongan yang baru, kalau terjadi penekanan yang kuat, demikian seterusnya sehingga ada obyek yang dapat digunakan untuk mereduksikan tegangan
Ciri-ciri utama psikoanalisis adalah:
- proses kejiwaan meliputi proses kesadaran dan proses ketidaksadaran
- menganut prinsip psychic determinism yang berarti bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam pikiran seseorang tidaklah terjadi secara kebetulan melainkan karena peristiwa kejiwaan yang mendahuluinya. Peristiwa kejiwaan yang satu berkaitan dengan peristiwa lainnya, dan menimbulkan hubungan sebab akibat
- proses mental yang tidak disadari fungsinya lebih banyak dan lebih penting dalam kondisi mental baik normal maupun abnormal

VIII. Apakah pengaruh matematika terhadap psikologi?
Pengaruh matematika terhadap psikologi manusia khususnya bagi siswa adalah meningkatkan kemampuan berfikir kritis (matematis) yaitu dapat membedakan benda, mengukur, mengurutkan, berpikir silogisme (sebab-akibat), membandingkan, melakukan hitungan, dan lain sebagainya.

IX. Bagaimana mengatasi minder dalam pergaulan?
Untuk mengatasi rasa minder, perlu penanaman rasa percaya diri yang kuat, semangat yang tinggi dalam melaksanakan sesuatu. Dalam menghadapi masalah, cobalah untuk selalu berpikir jernih dalam mencari solusinya. Selain itu, coba untuk selalu berpikir positif. Berpikir positif adalah melihat segala sesuatu dari sisi positifnya, bukan dari sisi negatifnya. Jika terbesit pikiran negative, segera tepis pikiran tersebut karena pikiran negative dapat mengubah perilaku yang semula rajin menjadi malas, hidup dengan motivasi tinggi menjadi pribadi yang mudah putus asa.
Kuncinya agar tidak minder dalam pergaulan adalah dengan menerima kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri pribadi, percaya kepada apa yang sudah ditakdirkan, dan jika mengalami suatu kejadian yang kurang baik anggaplah hal tersebut adalah yang terbaik dalam hidup.

Daftar Pustaka
http://www.mail-archive.com/psikologi_net@yahoogroups.com/msg00170.html
http://mathematicse.wordpress.com/2007/05/31/cara-mengajar-matematika-bagaimana/
http://groups.google.co.id/group/Komunikasi_Empati/browse_thread/thread/bade23b6b1c1158?hl=id&ie=UTF-8
http://diarihani.blogspot.com/2008/04/cara-mengajar-yang-efektif.html
http://percayadiri.asmakmalaikat.com/
http://www.eramuslim.com/konsultasi/motivasi/mengatasi-minder-yang-tinggi.htm
http://koranpendidikan.com/artikel/885/demokratis-mengajar-dan-selalu-mengembangkan-diri.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
http://adecandra.blogspot.com/2006/04/bagaimana-mengatasi-gangguan.html3
http://www.wattpad.com/77202
http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/message/3686
http://id.wikipedia.org/wiki/Fenomena
http://id.wikipedia.org/wiki/Fakta
http://greensmg.blogspot.com/2008/03/tugas-mata-kuliah-ilmu-jiwa-belajar.html 08.30

Sukmadinata, Nana Syaodih.2007.Bimbingan dan Konseling dalam Praktek Mengembangkan Potensi dan Kepribadian Siswa.Bandung:MAESTRO
Purwanto, M. Ngalim.2006.Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis.Bandung:PT REMAJA ROSDAKARYA
posted by Lina @ 22.00   2 comments
Rabu, 03 Desember 2008
I want to share to you about my experience during my study at Yogyakarta state university. Especially I studied psychology of learning mathematic in second years.
Early I think that learn psychology of learning mathematic is very interesting. And I will enjoy with that lesson. In my view, psychology of learning mathematic is learning about how to promote students to learn mathematic. How to make students in class can be active and teaching method to make the lesson interest. But I disappointed because psychology of learning mathematic learn about many of soul phenomenon. For example love, care, angry, proud, emotion, ect. I feel so bored. I really not enjoy following that lesson. I just come in class, sit, silent, and hear my lecturer say about the material of psychology of learning mathematic.
But now, I feel happy to follow psychology of learning mathematic. I am proud with my lecturer. He brings the lesson so interest. He uses many facility of learning. I am glad to follow that lesson. It seem that, facility that we use to learn can make the students interesting and enjoy the lesson.
posted by Lina @ 19.40   0 comments
About Me

Name: Lina
Home: Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
About Me: 07301244007 Program Studi Pend. Matematika Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY
See my complete profile
Previous Post
Archives
Links
Powered by

BLOGGER

© 2006 Lina's Blog .Blogspot Template by Isnaini Dot Com